Get Adobe Flash player

Daily Archives: August 3, 2012

JAKARTA—Pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) gelombang pertama yang dimulai 31 Juli lalu tetap dilanjutkan. Dari total 4.158 tempat uji kompetensi (TUK), sebanyak 2.344 TUK aktif dan 937 TUK akan mulai diaktifkan tanggal 8 Agustus mendatang, sedangkan 877 nonaktif.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad (Mendikbud) Mohammad Nuh menyampaikan, sampai dengan hari ketiga (1/8) pelaksanaan UKG telah diikuti 373.415 peserta. Dari jumalah tersebut sebanyak 243.619 peserta yang datanya sudah diolah.

“Memang ada yang ngadat, tetapi prinsipnya jalan. TUK yang tidak jalan distop, sedangkan yang normal tetap berjalan,” terangnya saat memberikan keterangan pers di Kemdikbud, Jakarta, Jumat (3/8) sore.

Nuh menyampaikan, guru-guru yang direncanakan mengikuti UKG di TUK yang dinonaktifkan tidak perlu datang. Mereka dijadwalkan ulang untuk mengikuti UKG pada gelombang kedua bulan Oktober mendatang.

Berdasarkan  data yang telah masuk di Kemdikbud, rata-rata nilai UKG adalah 44,55. Untuk nilai tertinggi mencapai  91,12 dan terendah 0. “Peta ini kalau kita lihat dengan UKA (uji kompetensi awal) tidak jauh beda, yakni 4,2. Nilai UKG sementara yang paling tinggi diraih DI Yogyakarta (DIY) yang mencapai 51.03,” jelas Nuh.

Nuh  merinci, untuk guru kelas sekolah dasar rata-ratanya 40.87, sedangkan untuk Penjaskes 42.59. Sementara mata pelajaran Bahasa Indonesia guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) rata-ratanya paling rendah dibanding mata pelajaran lain seperti IPA, IPS, dan matematika.

“Ada sesuatu yang harus kita rombak dalam kemampuan bahasa Indonesia para guru kita,” katanya.

Untuk sekolah menengah atas, mata pelajaran kimia paling rendah 37.9, sedangkan paling tinggi fisika 58,7.

Mendikbud menambahkan, penggunaan bandwith di server pusat hanya 2,34 persen, dan hambatan terjadi bukan bandwith di server, tetapi lebih banyak di terminal user. “Solusinya pendampingan pelaksanaan,” ucapnya. (Cha/jpnn)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2012/08/03/135750/DIY-Raih-Nilai-Tertinggi-UKG

PENDIDIKAN

Kamis, 02 Agustus 2012 , 18:30:00

Foto: Dok.JPNN
JAKARTA–Setelah melakukan evaluasi atas laporan dari berbagai daerah mengenai pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG),  Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyimpulkan bahwa pemerintah sebaiknya menghentikan UKG. Pasalnya, pelaksanaan UKG hingga saat ini dinilai kacau dan hasilnya dapat dipastikan tidak bisa dijadikan sebagai bahan penilaian kompetensi guru.

“Kalaupun ada yang bisa berhasil melaksanakan UKG, hasilnya tidak akan bisa  menggambarkan kompetensi guru yang dapat dijadikan pertimbangan dalam melaksanakan pembinaan guru. Bahkan, kemungkinan bisa kontraproduktif dengan upaya peningkatan mutu pendidikan,” ungkap Ketua Pengurus Besar (PB) PGRI, Sulistyo di dalam pesan singkatnya, Kamis (2/8).

Sebelumnuya, Federasi Guru Seluruh Indonesia (FGSI) juga mendesak Kemdikbud menghapus kebijakan UKG.

Sulistyo menyarankan, sebaiknya hasil UKG tidak dianalisis untuk penyimpulan hasil UKG. Hal ini disebabkan karena banyaknya soal tertukar dan ada soal yang pilihan jawabannya tak ada yang benar. Bahkan, untuk soal bergambar pun, tidak ada gambarnya sehingga soal tak bisa dijawab dengan benar serta  kode mata pelajaran juga  tertukar.

“Bisa jadi itu karena  digitalisasi soal tidak benar. Sistem yang belum profesional atau rapuh. Jika akan dilakukan pemetaan, tidak akan mampu menggambarkan kompetensi guru yang benar. Saya sangat kaget, ternyata pada sistem ada tulisan batas lulus 70. Itu mengingkari niat semula sebagai pemetaan dan ini membuat guru resah, panik, dan tertekan,” papar Sulistyo.

Namun yang disesalkan, pemerintah justru kerap mencari kambing hitam untuk  dikorbankan jika mereka gagal dalam melaksanakan tugas ataupun programnya. Selain itu, guru akhirnya hanya menjadi korban karena sudah menyiapkan diri berminggu-minggu dan meninggalkan tugasnya mengajar di sekolah.

“Jika itu diteruskan, Kemdikbud bisa jadi termasuk melakukan kebohongan publik dan pencemaran nama baik guru. Saya ingin mengingatkan agar Kemdikbud  jujur dan berani introspeksi. Menurut kajian kami, memang harus ada perbaikan sistem, data guru, dan digitalisasi soal. Jadi, sebaiknya segera diperbaiki,” imbuhnya. (Cha/jpnn)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2012/08/03/135700/index.php?mib=beritaterkini
Prev
Next