Rangkuman Berita

1 2 3 27

KOTA BATU – Artis ibu kota menjadikan Kota Batu sebagai tempat untuk penggarapan video klip. Setelah Anang-Ashanty, Rio Febrian ikut tertantang menggarap video klip di Kota Batu. Kemarin (26/1) Rio Febrian bersama timnya sedang melakukan penggambilan gambar video klip di Batu Night Spektakular (BNS) Kota Batu.

pengambilan gambar video klip tersebut mulai dilakukan Rio Febrian sejak pukul 17.00. Video klip tersebut merupakan single ke dua dari album terbarunya. Vidio klip tersebut untuk single lagu yang berjudul Matahari. Lagu tersebut sudah dirilis di pasaran bulan Februari.

batu rio febrian shooting

Sedangkan album terbaru milik Rio Febrian akan di launching pada bulan April mendatang. Hanya saja, titel album masih mencari yang cocok. “Untuk judul albumnya masih belum. Kalo single keduanya berjudul Matahari,” kata Rio saat di temui Jawa Pos Radar Batu.

Terpisah Boy Salman yang merupakan Video dan Foto Manager Sony Music Entertaiment Indonesia, mengatakan bahwa kota Batu memiliki banyak pemandangan yang indah. Pemandangan alam pun juga memiliki banyak pilihan. Banyak angle yang bisa digunakan untuk pengambilan gambar. Bahkan objek wisatanya pun juga beranekaragam.

Dan jauh berbeda dengan kawasan wisata lainnya di Indonesia. Sehingga untuk pengambilan gambar shoting video klip sangat cocok. Bahkan selama perjalanan di atas kereta dari Jakarta ke Kota Malang, juga diambil engle sendiri untuk shoting video klip.

Pengambilan gambar di dalam kereta memang sangat dibutuhkan. Sebab tema yang diusung Traveling. Jadi dalam video klip lebih menonjolkan aktifitas traveling. ”Setelah dari Kota Batu nanti kami lanjutkan di Gunung Bromo,” ungkap Boy. (luq/bb)

Sumber : http://radarmalang.co.id/batu-jadi-lokasi-shoting-vidio-klip-10964.htm

JAKARTA - Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13) lalu beralih ke Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP) mendapat respons beragam. Banyak daerah yang ngeyel tetap menjalankan K-13.

Dari tanggapan yang beragam itu, Mendikbud Anies Baswedan mengirimkan surat penghentian implementasi K-13 kali kedua. Bedanya jika pada surat pertama dulu ditujukan ke kepala sekolah, sedangkan surat kedua ini ditujukan ke kepala dinas pendidikan kabupaten/kota.

Harapannya, dinas pendidikan kabupaten dan kota bisa mengkoordinasikan jajaran sekolah di wilayahnya masing-masing. Supaya sekolah-sekolah bisa menuruti keputusan penghentian K-13. Jajaran Kemendikbud akan mengevaluasi “keampuhan” surat kedua itu.

Direktur Pembinaan SMP Ditjen Pendidikan Menengah (Dikmen) Kemendikbud Didik Suhardi menuturkan, memang benar banyak sekolah di daerah-daerah yang tetap menjalankan K-13. Sekolah-sekolah itu ogah kembali menerapkan KTSP dengan beberapa alasan.

“Umumnya mereka menetapkan melanjutkan K-13 karena merasa sudah siap,” jelas Didik di kompleks DPR, Rabu (21/1). Dia mengatakan salah satu kesiapan dari sekolah adalah buku-buku pembelajaran berbasis K-13 sudah sampai di sekolah.

Didik menjelaskan, sah-sah saja sekolah yang sudah siap untuk tetap menjalankan K-13. Tetapi tidak bisa serta merta memutuskan di internal sekolah sendiri-sendiri.

Sekolah yang tetap menjalankan K-13 harus mendapatkan izin dari Kemendikbud. Setahu Didik, sampai saat ini Mendikbud Anies Baswedan belum mengeluarkan surat persetujuan sekolah di luar sasaran untuk menerapkan K-13.

Seperti diketahui, pemerintah menetapkan sasaran implementasi K-13 hanya di 6.221 unit sekolah. Sementara sekolah lainnya, kembali menjalankan KTSP. Aturan ini berlaku pada Januari ini, tepatnya saat dimulainya semester genap tahun pelajaran 2014/2015.

Didik menjelaskan, di lapangan banyak sekali faktor yang membuat sekolah tetap melanjutkan implementasi K-13. Di antaranya adalah sudah adanya buku pelajaran K-13 di sekolah-sekolah.

Jika buku itu tidak digunakan, kepala sekolah bisa diperiksa aparat penegak hukum terkait pemborosan anggaran negara. “Kepala sekolah tentu takut jika sampai diperiksa kejaksaan,” ungkap Didik.

Dengan ketakutan itu, pihak kepala sekolah memilih cara aman. Yakni tetap menggunakan buku-buku K-13 yang sudah telanjur dipesan dan sampai di sekolah.

Namun, jika ada keputusan dari dinas pendidikan kabupaten/kota bahwa semua sekolah harus kembali ke KTSP, kepala sekolah tidak perlu takut untuk mengikutinya. Sebab, keputusan kembali ke KTSP dan menyimpan buku-buku K-13 sudah ada rujukan kebijakan dari dinas pendidikan setempat. (wan/end)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2015/01/22/282918/Mendikbud-Surati-Dinas-Pendidikan

 

KOTA BATU- Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispenpora) Pemkot Batu mengandeng United States Agency for International Development (USAID) Amerika, untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kota Batu. USAID dipercaya untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru. Agar guru akan lebih kreatif dalam proses belajar mengajar.

Menurut Mistin kepala Dispenpora Pemkot Batu bentuk kerja sama dengan USAID untuk meningkatkan mutu pendidik. Mulai di bidang pembelajaran hingga manajembatu usaiden pendidikan. Dengan cara tersebut diharapkan bisa memacu semangat siswa mengikuti setiap mata pelajaran.

 

Ada 31 sekolah di Kota Batu yang sudah dipilih masuk program kerjasama dengan USAID. Diantaranya 16 sekolah untuk tinggkat SD dan 15 sekolah untuk tingkat SMP. Para guru akan mendapatkan pelatihan khusus untuk merubah image mengenai pendidikan yang menakutkan. ”Kami ingin dunia pendidikan di Kota Batu sangat menyenangkan. Bukan lagi menekan membuat siswa menjadi takut,” kata Mistin.

Begitu juga yang diungkapkan Silvana Erlina Coordinator USAID Prioritas. Selama ini guru hanya bisa menyuruh, memerintah dan menekan murid. Namun, murid tidak diberikan pendidikan mencari solusi dan pemecahan persoalan.

Membuat siswa pun cenderung kebingungan dan kesulitan. Dengan pola pembelajaran yang baru, bisa mengubah mindset pendidik. Membuat anak bisa mencari solusi dan bentuk sekolah menjadi menyenagkan dan antraktif. “Nanti bisa merangsang anak bisa menemukan solusi. Bukan tekanan dalam pendidikan. Selama ini yang kami lihat murid hanya menerima dan tidak diberikan ruang gerak dan memilih,” kata Silvana. (muk/bb)

Sumber : http://radarmalang.co.id/dispenpora-rubah-mindset-mendidik-siswa-10650.htm

Mendikbud Anies Baswedan. Foto: dok.JPNN

JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan berupaya menjadikan ujian nasional (unas) sebagai sesuatu yang rileks dan tidak mengerikan.

Setelah memutuskan unas tidak lagi menentukan kelulusan pada mulai jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), berikutnya kemendikbud akan mencopot  sejumlah hal yang menjadikan unas begitu menyeramkan.

“Kami ingin melakukan desakralisasi unas,” kata Mendikbud Anies Baswedan dalam diskusi dengan Jawa Pos di Graha Pena Jakarta kemarin (16/1). “Ini adalah ujian biasa yang harusnya bisa dihadapi siswa dengan rileks,” tambahnya.

Posisi unas sebagai penentu kelulusan, menurut Anies adalah hal utama yang membuat unas begitu sakral. Karena itu, siswa, guru, maupun wali murid menghadapinya dengan segenap upaya untuk bisa melaluinya dengan baik.

Bagi siswa, kalau sampai gagal yang berakibat tidak lulus, tentu akan malu dan membuang waktu setahun untuk mengulang. Bagi guru, sekolah, dan dinas pendidikan, tingkat kelulusan akan menentukan prestasi dan karir mereka.

“Karena itu, penilaian prestasi guru pun akan diubah. Tidak semata-mata hasil unas siswa, namun juga UKG (ujian kompetensi guru, Red),” papar Anies.

Hal lain yang tidak kalah penting, lanjut lulusan Universitas Gajah Mada, itu adalah pola pengamanan soal unas. Selama ini, pengerahan polisi yang begitu masif dalam mengamankan distribusi soal unas ikut memberi andil dalam menjadikan unas begitu menyeramkan.

“Nanti tidak ada lagi polisi. Bukan berarti boleh bocor, namun buat apa juga cari bocoran,” ucap Anies.

“Saya ingin menjadikan lingkungan pendidikan sebagai zona kejujuran, dan orang akan mau jujur kalau mereka dipercaya akan berbuat jujur,” imbuhnya.

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Zainal Arifin menambahkan, banyak usulan dari Anies untuk pelaksanaan unas. “Masukan-masukan itu nanti resminya tertuang dalam SOP Unas yang sekarag dalam tahap finalisasi,” katanya,

Selain pengurangan pelibatan polisi, Zainal juga menyatakan perguruan tinggi tidak akan dilibatkan lagi dalam pengawasan unas. Hal itu dilakukan dalam tiga tahun terakhir untuk meyakinkan kampus bahwa pelaksanaan unas itu objektif. Sehingga nilainya sah untuk pertimbangan penerimaan mahasiswa baru.

Dalam unas tahun ini, kampus hanya berperan untuk urusan pemindaian lembar jawaban siswa. Pasalnya alat pemindai ini hanya dimiliki oleh kampus. Khususnya kampus negeri yang bertahun-tahun terlibat dalam penyelenggaraan unas.

Meskipun pengawasan unas mulai dikurangi, Zainal menjamin kredibilitas ujiannya. Pengurangan intensitas pengawasan itu diambil setelah nilai unas dipastikan tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Kelulusan siswa diserahkan ke guru dan sekolah masing-masing.

Dia jua mengkritisi kegiatan ritual-ritual jelang unas selama ini. Seperti mencuci pensil ujian dengan air kembang, bahkan sampai prosesi bakar kemenyan. Untuk urusan berdoa, Zainal mengatakan boleh-boleh saja asalkan dilakukan dengan tata cara yang benar dan wajar. Tidak perlu sampai berlebihan, seperti berdoa di makam leluhur.

“Setelah unas bukan penentu kelulusan, pengawasan tidak seketat dulu, kalau masih curang berarti masyarakat kita sakit,” jelas dia. Dia berharap unas 2015 ini menjadi momentum ujuk kejujuran siswa, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, hingga kepala daerah.

Zainal mengatakan sebentar lagi SOP Unas 2015 diterbitkan. Dia menuturkan, biasanya POS unas terbit setiap Januati. sedangkan ujiannya berlangsung April.

“Karena sekarang ada perubahan konsep fungsi unas, jadi butuh penyempurnaan SOP yang sejatinya sudahbkita rancang tahun lalu,” tuturnya. (ind/wan/sof)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2015/01/17/281928/Anies-Baswedan-tak-Mau-Unas-Tegang-Menyeramkan

SITUS pencarian di internet, Google telah meluncurkan aplikasi terbarunya untuk pendidikan. Layanan baru itu dinamai Google Classroom.

Dengan Google Classroom maka guru dengan pelajar terhubung secara digital. Aplikasi terbaru Google itu dapat berjalan pada perangkat ponsel dan tablet berbasis Android serta iOS.

Seperti dikutip dari Cnet, Jumat (16/1), Google menyebutkan bahwa lebih dari 40 juta siswa, guru dan administrator menggunakan aplikasi berbasis pendidikan itu. Aplikasi itu juga membantu pelajar mengetahui tugas mendatang beserta instruksi untuk menandai tugas yang telah selesai dikerjakan.

Menariknya, aplikasi ini juga memungkinkan penggunanya untuk melampirkan (attach) file seperti PDFs dan menggunakan fitur kamera pada perangkat mobile guna melampirkan foto pada tugas siswa. Software engineer Google, Jorge Lugo  dalam postingan di blognya menulis bahwa sudah lebih dari 30 juta tugas telah dimuat dalam Google Classroom sejak aplikasi itu diluncurkan.

“Jika mereka lupa membawa pekerjaan rumah (PR), mereka dapat meminta seseorang di rumah untuk mengambil foto tugas mereka kemudian diubah dengan menggunakan aplikasi,” tulisnya.

Lugo juga menjelaskan bahwa versi mobile Google Classroom dirancang untuk lebih memudahkan komunikasi antara guru dan siswa dengan penambahan halaman tugas dan kemampuan arsip kelas.(mg2/jpnn)

Sumber :http://www.jpnn.com/read/2015/01/16/281856/Permudah-Komunikasi-Guru-dan-Murid-dengan-Google-Classroom

MOMEN ISTIMEWA: Tim FMIPA UGM bersama CEO Apple Tim Cook (tengah) di kompleks Apple Inc, Amerika Serikat. Dari kiri, Maulana Rizki A., Daniel Oscar Baskoro, Tim Cook, Sabrina Woro A., Fansyuri Jenar, Zamahsyari, dan Bahrunur. (FMIPA UGM for Jawa Pos)

INOVASI karya enam mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta, yang baru-baru ini meraih gelar Best Public Safety App dalam kompetisi IT di California, Amerika Serikat.
—————-
Laporan Dinda Juwita , Jakarta
—————-
MALAM itu (13/12/2014) jantung Daniel Oscar Baskoro berdegup kencang. Dia tak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya karena harus melakukan presentasi di depan tujuh juri kompetisi IT Public Safety App Challenge yang diselenggarakan IBM dan AT&T Foundry. Presentasi digelar di gedung AT&T Foundry, California, Amerika Serikat.

Dia memang harus bisa memanfaatkan dengan baik waktu sepuluh menit untuk menjelaskan inovasi teknologi karyanya bersama lima temannya dari Program Studi Ilmu Komputer dan Geofisika FMIPA UGM.

Untung, Oscar bisa mengatasi kegugupan itu dan tampil meyakinkan di hadapan ratusan peserta dari berbagai negara dalam kompetisi tersebut. Di antaranya, India, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

Sebagai project manager, Oscar didampingi Zamahsyari (programer), Bahrunur (programer), Sabrina Woro A. (designer), Fansyuri Jenar (copywriter), serta Maulana Rizki A. (data analyst). Peraih Indonesian Youth Leaders dari UNFPA (United Nations Population Fund) tersebut tampil ”sempurna” sehingga memukau dewan juri yang terdiri atas para pakar teknologi.

Saat itu Oscar cs menampilkan aplikasi Realive untuk menangani bencana secara real time. Beberapa jam berselang, juri akhirnya memanggil enam anak muda dari Indonesia tersebut untuk maju ke podium.

Mereka dinyatakan menjadi pemenang Best Public Safety App, salah satu di antara empat kategori yang dilombakan. Kompetisi itu tidak hanya diikuti para mahasiswa dari penjuru dunia, tapi juga praktisi.

”Kami kaget sekali saat juri menyebut aplikasi kami jadi Best Public Safety App. Apalagi, pesertanya tidak semua mahasiswa. Rata-rata malah dari kalangan profesional. Bahkan, kami sempat minder melihat para profesional dari negara-negara maju,” kata mahasiswa Ilmu Komputer FMIPA UGM tersebut.

Oscar menceritakan bahwa aplikasi karya timnya itu merupakan pengembangan dari aplikasi yang sempat dia ciptakan sebelumnya. Yakni, aplikasi Quick Disaster.

”Dengan aplikasi yang menggunakan perangkat Google Glass, para pemakai akan dipandu untuk menyelamatkan diri ketika terjadi bencana hanya dengan mengucapkan kata okay glass,” kata dia.

Aplikasi Quick Disaster pernah menyabet gelar tertinggi (Global Winner) dalam kompetisi Code for Resilience yang diadakan Bank Dunia di London, Inggris, Juni tahun lalu. Sementara itu, selain memanfaatkan Google Glass, aplikasi Realive dikembangkan di perangkat Android Wear.

Android Wear merupakan perangkat keluaran Google yang berbentuk jam tangan. Dalam penggunaannya, alat itu dapat dihubungkan dengan handphone. Ketika Android Wear telah tersinkronisasi dengan handphone, semua notifikasi akan langsung muncul di dua perangkat tersebut.

Jadi, Realive merupakan aplikasi untuk menangani kecelakaan atau bencana secara real time yang dikembangkan pada Android Wear dan Google Glass. Aplikasi itu dapat memberi tahu pihak-pihak terkait dan terdekat seperti polisi, pemadam kebakaran, petugas kesehatan, dan lainnya saat terjadi kecelakaan secara real time.

Dengan memakai Realive, pertolongan bisa dilakukan dengan cepat karena informasi langsung ditujukan kepada petugas yang berada di sekitar lokasi kecelakaan dengan menggunakan perangkat wearable.

Realive dapat memberikan penanganan terhadap 20 jenis kejadian. Mulai kriminalitas, kebakaran, tanah longsor, tsunami, angin topan, tornado, hingga gempa di suatu tempat.

”Bahkan, Realive juga bisa memantau berapa orang korban maupun petugas yang ada di lokasi bencana. Alat ini didesain seperti itu agar efisien saat penanganan bencana. Jadi, semisal ada bencana di tempat lain, petugas yang lain juga bisa datang ke lokasi bencana yang lain,” kata Google Student Ambassador Asia Tenggara tersebut.

Oscar menjelaskan, sebelum diundang ke Amerika Serikat untuk mempresentasikan karya di hadapan dewan juri, para peserta memperoleh data untuk diolah terlebih dulu. Selanjutnya, olahan data itu digunakan untuk pengembangan aplikasi. ”Kalau karya kami tidak sesuai yang diinginkan, pasti kami tidak diundang untuk mempresentasikan karya kami itu,” ujar dia.

Oscar mengungkapkan, keunggulan Realive ada pada kecepatan waktu penanganan bencana. ”Karena sampai saat ini beberapa orang masih bergantung pada pemanfaatan HT (handie-talkie). Sedangkan di zaman modern seperti saat ini, semua informasi lebih mudah diperoleh melalui handphone. Nah, otomatis semua warning notification bisa masuk ke handphone saat sudah connect dengan perangkat tersebut,” katanya.

Karya Oscar dkk mengalahkan karya peserta lain yang kebanyakan belum memberikan faktor kecepatan pada aplikasi yang mereka ciptakan. Praktis, inovasi tersebut mampu mengantarkan tim UGM menyabet gelar dalam kompetisi yang dihelat di Silicon Valley, jantung industri teknologi dunia di Amerika Serikat, itu.

Kompetisi selama dua hari tersebut juga membawa Oscar cs berkesempatan mengikuti berbagai forum teknologi internasional.

”Salah satunya yang paling berkesan ketika saya dan teman-teman mendapat undangan khusus dari CEO Apple Tim Cook. Kami diajak berkeliling kantor Apple Inc,” ujarnya dengan bangga.

Setelah mengikuti kompetisi bergengsi di Negeri Paman Sam itu, Oscar berkomitmen fokus merampungkan studinya di UGM. Dia juga tetap berupaya menciptakan berbagai inovasi di bidang teknologi yang diharapkan mampu membantu masyarakat.

”Sekarang saya sedang fokus bagaimana caranya agar riset-riset saya bisa sustain. Saya ingin sekali bisa betul-betul mengabdi kepada masyarakat,” ujar putra pasangan Tri Baskoro Tunggul Saroto dan Agnes Emmi tersebut.

Semua hasil riset dan aplikasi yang diciptakan Oscar tidak diperjualbelikan. ”Tidak dijual karena saya ingin mengabdi kepada masyarakat. Saya nggak mau mengambil untung. Jadi, kalau ada yang ingin menggunakan aplikasi tersebut, bisa tinggal kontak saya melalui e-mail. Tapi, hak paten tetap ada di saya dan teman-teman,” tegas Oscar. (*/c11/ari)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2015/01/14/281397/Inovasi-Teknologi-Mahasiswa-UGM-Menang-di-Amerika

JAKARTA – Kebijakan pembinaan guru sering dikeluhkan karena menimbulkan berbagai masalah. Mulai dari urusan kenaikan pangkat, peningkatan kompetensi, hingga urusan pencairan aneka tunjangan.

Anis Bwd

Menteri Pendidikdan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan meresmikan pembentukan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan untuk meminimalkan masalah itu.

Anies menuturkan pembentukan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) itu dilakukan sekaligus dalam perombakan unit eselon I di lingkungan Kemendikbud. “Semua urusan guru, mulai dari PAUD, dikdas, hingga dikmen ada di Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan ini,” tutur Anies di Jakarta kemarin.

Mantan rektor Universitas Paramadina Jakarta itu menjelaskan, program pertama Ditjen GTK itu adalah melakukan pendataan guru-guru yang belum pernah mengikuti program pelatihan atau peningkatan kompetensi. Dia meyakini bahwa masih banyak guru yang puluhan tahun tidak pernah mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi.

“Mereka semua itu nanti kita hitung jumlahnya. Lalu kita jadikan sasaran program peningkatan kompetensi,” ujar Anies.

Menteri kelahiran Kuningan, Jawa Barat itu menjelaskan peningkatan kompetensi guru tidak bisa diabaikan. Menurutnya kompetensi guru harus terus dikembangkan atau di-upgrade.

Selain peningkatan kompetensi, Anies mengatakan Ditjen GTK juga bertugas mengurusi pencairan tunjangan. Mulai dari tunjangan fungsional guru, sampai tunjangan profesi guru (TPG). Selama ini pengurusan TPG di Kemendikbud dilakukan secara terpisah di banyak ditjen. “Sekarang jika mengurus TPG cukup di satu ditjen saja,” terangnya.

Anies menjelaskan pembentukan Ditjen GTK ini adalah pemenuhan janji kampanye Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia mengatakan saat kampanye dulu, Jokowi memiliki prioritas kerja untuk menata pembinaan guru.

Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo menyambut baik pembentukan Ditjen GTK itu. Dia berahrap Anies menempatkan orang-orang yang “menyayangi” guru sebagai pejabat di Ditjen GTK.

“Jangan sampai Ditjen Guru itu sering mengeluarkan kebijakan yang menghukum guru seperti selama ini,” katanya.

Sulistyo mencontohkan kebijakan yang dia cap menghukum guru adalah aturan tentang kenaikan pangkat. Dia menjelaskan dalam rezim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dulu, kenaikan pangkat guru wajib membuat karya tulis.

Padahal guru tidak pernah mendapatkan pelatihan untuk membuat karya tulis. Akibatnya saat ini ada sekitar 800 ribu guru mentok di pangkat IV/a. (wan)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2015/01/10/280493/Dibentuk-Ditjen-Baru,-Urus-Pelatihan-dan-Tunjangan-Guru

JAKARTA – Peserta ujian nasional (unas) 2015 yang mulai digelar April ini bisa sedikit lega. Sebab, dipastikan nilai unas tak lagi untuk kelulusan siswa. Namun, nilai unas tetap harus bagus karena digunakan untuk masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Yaitu untuk masuk ke PTN (lulusan SMA/SMK/MA) dan masuk untuk penyaringan masuk SMAN dan SMPN.
Unas 2015aBadan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) kemarin (08/1) akhirnya memastikan bahwa kelulusan siswa ditetapkan oleh sekolah masing-masing, bukan dari unas. Penilaian kelulusan itu murni dari penilaian guru dan sekolah.

Keputusan itu disampaikan oleh Ketua BSNP Zainal Arifin Hasibuan di Jakarta kemarin. Guru besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia itu menegaskan bahwa satu dari empat fungsi unas selama ini akhirnya dihapus.”Yang dihapus itu adalah fungsi unas sebagai salah satu penentu kelulusan siswa,” kata dia. Keputusan itu diambil setelah BSNP bertemu dengan Mendikbud Anies Baswedan Rabu lalu (7/1).
Dia mengatakan selama ini fungsi unas sebagai salah satu pertimbangan kelulusan siswa diributkan masyarakat. Di antara penyebabnya adalah, unas dinilai sebagai ujian yang tidak adil.”Okelah kita sekarang kompromi. Porsi nilai unas dalam pertimbangan kelulusan siswa sekarang nol persen,” tandasnya.
Zainal menuturkan selama ini ada tiga komponen dalam penentuan kelulusan siswa. Ketiga komponen penentu itu adalah, penilaian dari guru, sekolah, dan pemerintah yakni dengan unas.Setelah kebijakan penghapusan fungsi unas sebagai salah satu penentu kelulusan itu dihapus, maka kelulusan siswa mulai tahun ini murni dari penilaian guru dan sekolah saja.

Dengan aturan baru ini, Zainal menekankan bahwa BSNP ingin menciptakan unas sebagai program penegakan sikap kejujuran bangsa Indonesia. Setelah unas tidak lagi menjadi acuan kelulusan siswa, dia berharap ujian tahunan itu dilaksanakan dengan jujur.”Kalau masih ada kecurangan, itu namanya kebangetan. Ayo revolusi mental dari sekolah,” ujarnya.
Zainal mewanti-wanti agar guru, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, wali kota, bupati, hingga gubernur tidak mengintervensi secara negatif pelaksanaan unas. Dia berharap unas dilaksanakan sebagai kegiatan akademik, bukan politik. Dengan cara ini, peta kualitas pendidikan yang didapat dari kegiatan unas benar-benar valid.
Meski fungsi unas sebagai salah satu pertimbangan kelulusan dihapus, Zainal mengatakan fungsi-fungsi lainnya tetap dipertimbangan. Yakni fungsi sebagai alat pemetaan atau radar kualitas pendidikan di Indonesia. Dia mengatakan kualitas pendidikan tidak bisa dipetakan, jika tidak menggunakan alat pemetaan yang berstandar nasional.

Fungsi unas berikutnya yang dipertahankan adalah, sebagai acuan masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. “Jika nanti perguruan tinggi tidak mau menggunakan nilai unas, ya terserah mereka. Yang penting kita sudah sediakan,” katanya.
Tetapi menurutnya, masih ada kenaikan jenjang dari SD ke SMP, serta dari SMP ke SMA/SMK yang membutuhkan pertimbangan nilai unas. Jika penerimaan atau seleksi kenaikan jenjang itu murni dari rapor, tentu akan kesulitan. Sebab nilai rapor bisa saja tinggi-tinggi, yakni 8, 9, bahkan sampai 10 semua.
Kemudian fungsi unas terakhir yang masih dipertahankan adalah, sebagai bahan kebijakan intervensi pendidikan oleh pemerintah. Dia mencontohkan jika di sekolah A nilai fisika-nya jeblok, berarti ada kemungkinan pemenuhan kualitas pembelajaran fisika rendah.Sehingga intervensi fokus untuk pemenuhan sarana pembelajaran fisika. “Jika tidak ada unas, apakah pemerintah nunggu wangsit. Kan tidak seperti itu,” pungkas dia. (wan/end)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2015/01/09/280280/Unas-untuk-Masuk-Jenjang-Lebih-Tinggi

BATU- Kegagalan adalah sukses yang tertunda, gagal meraih peringkat pertama pada lomba tata kelola BOS (Bantuan Operasional Sekolah) tingkat Jawa Timur, SMPN 1 Kota Batu justru mendapatkan juara 1 lomba tata kelola BOS tingkat Nasional.
http://www.malang-post.com/images/stories/AGROPOLITAN/0801-smp-1-juaranasional.gifPrestasi membanggakan itu tentu saja membuat guru SMPN 1 Kota Batu sempat tertegun beberapa saat, kemudian berteriak penuh kegembiraan. Pasalnya, dalam lomba tingkat nasional ini, justru SMPN 1 Kota Batu meninggalkan SMPN 1 Srono Banyuwangi yang sebelumnya menjadi juara pertama Lomba Tata Kelola Bos tingkat Jawa Timur.
Bambang Irawan, Kepala SMPN 1 mengucapkan syukur yang tidak terhingga, pasalnya tanpa disangka-sangka sekolah yang dipimpinnya mendapatkan nilai tertinggi sebesar 90,64. “Kaget juga, tidak menyangka sama sekali kalau kita menang juara pertama,” ujar Bambang.
Awalnya SMPN 1 memasang target cukup masuk rangking 5 besar, karena bagaimana pun Jawa Timur selalu menjadi barometer di tingkat nasional. Namun Bambang sama sekali tidak menyangka kalau justru mendapatkan peringkat pertama dalam lomba ini.
“Di Jatim dapat peringkat kedua, yang dikirim lomba tingkat nasional kan juara 1 dan juara 2, malah kita yang mendapatkan anugerah kemenangan ini,” ujar Bambang.
Lomba ini menurut Bambang dilaksanakan dalam dua tahap. Penilaian pertama tim juri datang kunjungan ke sekolah untuk melihat kondisi di sekolah. Penilaian tahap kedua, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar mengundang Kepala Sekolah SMPN 1 beserta beberapa orang guru untuk memaparkan tata kelola BOS yang diterapkan di sekolah mereka.
Tidak main-main dewan juri yang melakukan penilaian berasal dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), 1 orang berasal dari Indonesia Corruption Watch (ICW) dan 1 orang juri dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar.
Penilaian yang dilakukan oleh dewan juri ini meliputi mulai dari penyusunan perencanaan, melaksanakan serta membuat laporan kegiatan. Salah satu penilaian utama dalam lomba ini adalah dampak pemberian BOS terhadap prestasi apa yang diraih para siswa berkat penggunaan dana BOS tersebut.
“Salah satu poin yang kita dapatkan adalah berkat perhatian Pemerintah Daerah yang memberikan BOSDA, sementara banyak daerah lain yang pemerintah daerahnya tidak memberi,” papar mantan Kepala Sekolah SMPN 5 Sumberbrantas ini.
Sama seperti sekolah-sekolah lain, siswa SMPN 1 mendapatkan BOS sebesar Rp 710 ribu pertahun. Sementara dari BOSDA, siswa SMPN 1 mendapatkan BOSDA sebesar Rp 1500 setiap bulan persiswanya.
Dalam pengelolaan BOS, SMPN 1 selalu menerapkan tata kelola BOS yang transparan, hingga tidak akan civitas akademika yang bisa mengawasi, orang di luar sekolah pun bisa melihat dana BOS tersebut dipergunakan untuk apa saja.
Berbagai cara dilakukan agar semua pihak bisa mengawasi salah satunya dengan memasang di website sekolah. “Prestasi ini harus kita pertahankan dengan memperbanyak inovasi, apalagi kabar yang berkembang BOS akan dinaikkan menjadi Rp 1 juta persiswa,” terangnya. (muh/udi)

Sumber : http://www.malang-post.com/agropolitan/97219–smpn-1-batu-juara-1-tata-kelola-bos-nasional

Unas 2015

JAKARTA - Meskipun fungsi ujian nasional (unas) 2015 sebagai pemetaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berharap siswa bersiap mulai sekarang. Diantaranya adalah mempelajari kisi-kisi soal ujian yang sudah lama mereka publikasi.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Nizam menjelaskan, guru dan siswa calon peserta unas tidak perlu ragu untuk mempelajari kisi-kisi unas 2015 itu.

Meskipun fungsi unas telah bergeser dari alat penentu kelulusan menjadi alat pemetaan pendidikan, kisi-kisinya tidak mengalami perubahan.

Guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta itu menjelaskan secara teknis pelaksanaan, tidak ada perubahan signifikan antara Unas 2014 dengan Unas 2015.

Contohnya untuk jumlah butir soal ujian yang harus digarap siswa, Nizam mengatakan jumlah butir soal dan waktu penyelesaiannya tetap sama.

Misalnya untuk ujian mata pelajaran (mapel) bahasa Indonesia di Kelas III SMA tetap 50 butir dan alokasi waktunya 120 menit. Kemudian butir soal ujian mapel matematika juga masih sama yakni 40 butir dengan alokasi waktu 120 menit.

“Butir-butir soal untuk unas 2015 sudah kami siapkan,” kata Nizam. Proses berikutnya adalah, butir-butir soal itu di-review oleh tim khusus yang identitasnya dirahasiakan. Tujuannya adalah mengantisipasi kebocoran soal ujian dari panitia tingkat pusat.

Setelah butir-butir soal ujian itu di-review tahap beritkunya adalah revisi pamungkas. Lalu butir-butir soal itu dirangkai menjadi paket soal ujian dan siap untuk digandakan oleh percetakan-percetakan yang memenangi tender.

Selain butir soal ujian, Nizam mengatakan pembobotan kesulitan naskah ujian juga sama dengan unas tahun lalu. Komposisinya adalah soal kategori sulit berjumlah 20 persen, kategori sedang 70 persen, dan kategori ringan atau mudah 10 persen.

Dengan komposisi bobot kesulitan itu, banyak siswa yang mengeluh soal-soal Unas 2014 sulit-sulit. Bahkan ada siswa yang sempat mengeluh soal yang mereka kerjakan levelnya perguruan tinggi. Kemendikbud tidak mundur meskipun ada siswa yang mengeluh. Dengan persiapan yang bagus, siswa diharpakan bisa mengerjakan soal-soal yang diujikan.

Peneliti pendidikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Titik Handayani menuturkan, penentukan kelulusan unas di tangan guru atau sekolah memang tidak menutup potensi “jual-beli” nilai ujian. Praktek ini diantaranya terjadi kepada anak yang tidak mampu secara akademik, tetapi orangtunya memiliki kemampuan finansial baik.

“Tapi ingat, sekolah itu tempat untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran,” jelasnya. Dia berharap para guru tidak bisa diintervensi oleh siapapun saat menilai hasil ujian sekolah siswanya.

Sehingga bisa memupuk iklim berkompetisi yang baik diantara para siswa. Jika tingkat akademik siswa di sekolah tertentu masih rendah, sekolah tidak perlu malu untuk tidak meluluskannya. (wan)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2015/01/06/279649/Jumlah-Soal-Unas-dan-Tingkat-Kesulitan-Tak-Diubah

1 2 3 27